Monthly Archives: September 2014

Vespa Ini Digunakan sebagai Meriam Tank

Vespa+tank

Paris Sejak awal meluncur, Vespa menjadi sebuah skuter yang paling diminati karena desain dan kekuatannya. Banyak kreasi muncul dari motor asal Negeri Pizza ini.

Tak hanya kalangan sipil yang berkreasi dengan Vespa, kali ini kalangan militer pun ikut berkreasi dengan Vespa sebagai kendaraan tempurnya.

Militer dari Perancis memodifikasi Vespa sebagai kendaraan tempur dengan menambahkan meriam anti tank ke skuter tersebut, seperti dilansir gizmag, Jumat (11/4/2014).

Banyak kalangan militer menggunakan skuter sebagai kendaraan tempur karena memiliki bobot yang cukup ringan, konsumsi bahan bakar yang irit, serta mudah dimodifikasi sesuai kebutuhan.

ACMA (Ateliers de Construction de Motocycles et Automobiles) memproduksi sekitar 500 unit Vespa 150 TAP pada 1956-1959. TAP itu sendiri merupakan akronim dari Troupes Aero Portees atau pasukan terjun payung.

Vespa 150 TAP terintegrasi dengan meriam 20mm yang digunakan untuk menembak pesawat kargo dan tank ringan. Selain pesawat kargo, Vespa ini juga akan digunakan untuk perang di Asia dan Afrika Utara dengan mendapat tambahan tabir asap sekaligus mortir high-explosive anti-tank (HEAT).

Vespa 150 TAP ini menjadi senjata mematikan yang cukup mobil. Hal ini ditunjang dengan kecepatan maksimal dari skuter tersebut yang mencapai 64 km/jam. Vespa ini juga menjadi sarana angkutan logistik tambahan ketika pertempuran.

Skuter sudah menjadi kendaraan militer sejak Perang Dunia II yang digunakan pada perang di Aljazair. Sedangkan untuk Vespa sendiri prototipenya telah dikembangkan oleh Vespa Force Armate yang merupakan salah satu divisi daritentara Italia pada 1949-1951 (Kik) 

Advertisements

Kumpul Bareng Scooterist Sumatera (KBSS) Berharap Perhatian Pemerintah

31-8-14-RASYID-JAMBORE-SCUTER-450x300

Vespa memiliki daya tarik tersendiri, unik dan berkesan. Itu alasan Ferdy Hendra pria asal Palembang, datang ke Medan menghadiri acara Kumpul Bareng Scooterist Sumatera (KBSS) XII di Sirkuit IMI Jalan Pancing Medan

Medan – Ferdy Hendra tampak bersemangat. Ribuan Vespa yang berjejer di Sirkuit Pancing dalam acara Kumpul Bareng Scooterist Sumatera (KBSS) ke XII  menghilangkan rasa lelahnya setelah melakukan perjalanan Palembang-Medan, Minggu, (24/8) lalu dan sampai di Medan pada Selasa, (26/8) lalu.

Tak hanya itu, vespa miliknya yang jauh dibawa dari Palembang akhirnya mampu memenangkan kontes kategori original. Vespa dengan warna biru dan sudah bekarat tersebut pun menjadi pusat perhatian dan dikerumuni para pengunjung.

“Vespa memiliki daya tarik tersendiri, unik dan berkesan. Itu alasan saya datang kemari,” ujarnya saat ditemui Sumut Pos, Minggu (31/8).

Vespa dengan flat BG 12911 milik Ferdi adalah Vespa keluaran 1956, Dougless. Ia membelinya dari seorang warga di sekitaran Jembatan Ampera dengan harga yang terbilang mahal 12 tahun lalu. Warna, body semuanya masih original, kecuali beberapa perangkat kicil seperti sarung tangan di stang dan ban yang digunakan.

“Semua original, kecuali stang dan ban yang dipakai, begitu pun ban originalnya masih saya letakkan di belakangnya, tapi memang tidak dapat lagi digunakan,” ujarnya sembari menjawab banyak pertanyaan lain dari pengunjung yang merubuni motornya.

Ia mengaku sudah sejak 1999 tertarik melihat vespa, namun baru serius pada tahun 2008. “Saya suka vespa karena unik dan pertemanan antar sesama vespa itu kuat. Makanya saya sempatkan hadir ke acara ini jauh dari Palembang,” katanya.

Sementara itu, ketua panitia KBSS XII, Eric Murdianto menjelaskan, kegiatan ini dirancang dengan konsep carnaval. “Konsepnya seperti karnaval, semua vespa yang masuk di letakkan sejajar, intertaint karena ada UKMnya ada juga kulinernya dan berbagai kontest kita buat,” ujarnya sembari mengatakan tahun lalu KBSS dilaksanakan di Jambi.

Tambahnya, peserta kali ini berasal dari Sabang sampai Marauke, bahkan hadir pula scooterist dari Filipina, Timika dan Malaysia. “Yang jauh dari luar kami nyebutnya scooter terbang. Jadi acaranya ini Sumatera, tapi yang hadir dari seluruh Indonesia,” ujarnya.

Dijelaskan Eric, tujuan kegiatan tak lain untuk memperkenalkan potensi yang terdapat di Sumut, khususnya di Medan serta mempererat silaturahmi antar scooter dan meningkatkan kreatifitas anak-anak muda.

“Tapi namanya hobi yah, pasti kendala tetap ada. Selama ini kami secara maksimal dibantu oleh Ikatan Motor Indonesia (IMI) makanya, saya berharap pemerintah bisa memperhatikan kami. Khususnya Pemprov Sumut, kami perlu ruang hobi, ruang kreatif karena inikan bisa menjadi event tahunan dan potensinya cukup besar untuk memperkenalkan Medan. Seperti hari ini, kami jual majalah tetang Medan plus sertifikat, inikan membantu,” harapnya. (kik)