Monthly Archives: July 2013

ORIJINGAN INDONESIA

12054_636974669665263_1131216661_n

Bermula dari nongkrong bareng dan memiliki hoby yang sama 12 Februari 2013, Para pecinta /penggemar vespa membentuk suatu komunitas yang diberi nama “ORIJINGAN” sesuai dengan namanya ,anggota komunitas ini adalah para pemilik vespa,lambretta atau scooter yang suka dengan barang barang Original.

Tosan,Pendiri dan pengurus Orijingan Indonesia menuturkan komunitas ini awalnya hanya beranggotakan 6 orang saja,setelah bergabung dan ngobrol di Blackberry Massanger dan melakukan kopdar (kopi darat ) di area Kota Yogyakarta banyak dari rekan –rekan di wilayah yogya dan solo yang ingin ikut bergabung dalam komunitas tersebut dan pada waktu itu anggota masih sekitar 25 orang, dan lambat laun dari berbagai wilayah di seperti pemalang, semarang,Klaten, bogor,jember, sragen ,lumajang ,banyuwangi dan bali .

Kata Orijingan sendiri diambil dari kata ORI (diambil dari kata ORIGINAL) terdiri orang orang yang suka vespa dan aksesoris Orisinil , dan JINGAN (diambil dari kata Bajingan ) terdiri dari kawan kawan , extreme,Non Original,wiraswasta,Peturing,jaksa,Bengkel ,pedagang repro yang mau disebut sebagai Bajingan dalam artian yang bagus,karena mereka kepengen merubah image bajingan yang selama ini dipandang arogan, jahat dan urakan.

Dengan dibuatnya komunitas “Orijingan” sebagai wadah sendiri yang tidak selalu orisinilan yang diobrolin setiap hari dan disaat kopdar .dan pada pertemuan akbar yang ke 3 Orijingan sepakat mengetok palu secara resmi berkibar di dunia persemokan pada hari minggu 27 Maret 2013 di Wonosobo yang dihadiri oleh perwakilan chapter-chapter seperti Bali,yogya,solo,pati,pemalang, Cirebon,bogor bekasi dan Jakarta dan ditetapkan sebagai mother chapter adalah kota Yogyakarta dimana ad aide dibuatnya  Orijingan.

Dan saat ini tercatat kurang lebih sekitar 275 member dan simpatisan Orijingan di berbagai wilayah penjuru nusantara di jawa,bali, sumatera melipui lampung, jambi dan medan sedangkan di Kalimantan dari samarinda,Balikpapan juga Sulawesi dan Batam,bahkan sudah ada member dari kuala lumpur Malaysia.

Harapan kedepan, sesuai dengan visi dan misinya, Orijingan diharapkan dapat semakin meningkatkan peranannya sebagai wadah pemersatu klub / komunitas pecinta vespa di Indonesia,

Semoga kedepan komunitas Orijingan mampu menjembatani pecinta vespa/Lambretta dari berbagai klub dan komunitas lain ataupun independen yang mau bertukar pikiran atau sharing,bila ingin bergabung silahkan kunjungi website nya di http://www.orijingan.wordpress.com dan twitter di @vespaorijingan

Vespa, Sang Legendaris

enrico piaggio[35]MULA

Sejarah vespa dimulai lebih dari seabad silam, tepatnya 1884. Perusahaan Piaggio didirikan di Genoa, Italia pada tahun 1884 oleh Rinaldo Piaggio. Bisnis Rinaldo dimulai peralatan kapal. Tapi di akhir abad, Piaggio juga memproduksi Rel Kereta, Gerbong Kereta, body Truck, Mesin dan Kereta api. Pada Perang Dunia I, perusahaannya memproduksi Pesawat Terbang dan Kapal Laut. Pada tahun 1917 Piaggio membeli pabrik baru di Pisa dan 4 tahun kemudian Rinaldo mengambil alih sebuah pabrik kecil di Pontedera di daerah Tuscany Italia. Pabrik di Pontedera inilah yang mana menjadi Pusat produksi pesawat terbang beserta komponen-komponennya (baling-baling, Mesin dan Pesawat) Selama Perang Dunia II, pabrik di Pontedera membuat P108 untuk mesin Pesawat dua penumpang dan Versi Pembom.

Lahir Kembali

Pada akhir Perang Dunia II, pabrik Piaggio dibom oleh pesawat sekutu. Setelah perang usai, Enrico Piaggio mengambil alih Piaggio dari ayahnya (Rinaldo Piaggio). Pada saat itu perekonomian Italia sedang memburuk, Enrico memutuskan untuk mendisain alat transportasi yang murah. Enrico memutuskan untuk fokuskan perhatian perusahaannya pada masalah personal Mobility yg dibutuhkan masyarakat Italia. Kemudian bergabunglah Corradino D’Ascanio, Insinyur bidang penerbangan yang berbakat yang merancang, mengkonsep dan menerbangkan Helikopter Modern Pertamanya Piaggio. D’Ascanio membuat rancangan yang simple,ekonomis, nyaman dan juga elegan. D’Ascanio memimpikan sebuah revolusi kendaraan baru. Dengan mengambil gambaran dari tehnologi pesawat terbang, dia membayangkan sebuah kendaraan yang dibangun dengan sebuah “Monocoque” atau Unibody Steel Chassis. Garpu depan seperti Ban mendarat sebuah pesawat yang mana mudah untuk penggantian ban. Hasilnya sebuah design yg terinspirasi dari pesawat yang yang sampai saat ini berbeda dengan kendaraan yang lain.

Maka pada 1945, konstruksi alternatif tersebut ditemukan. Awalnya memang sebuah konsep sepeda motor berkerangka besi dengan lekuk membulat bagai terowong. Mengejutkan, ternyata bagian staternya dirancang dengan menggunakan komponen bom dan rodanya diambil dari roda pesawat tempur.

Guna mengoptimalkan bentuk dan keamanan penggunanya, pabrikan yang kala itu masih terbilang sebagai usaha ”kaki lima” merancang papan penutup kaki pada bagian depan. Proyek ini langsung dipimpin oleh Corradino d’Ascanio. Karena itu, hak paten pun segera dapat mereka kantongi.

Hasilnya, muncullah pertama kali produk motor dengan seri MP5. Kendaraan ini berteknologi sederhana tetapi punya bentuk yang amat menarik, bagai binatang penyengat (lebah/tawon) karena bentuk kerangkanya.

Namun, karena bentuk penutup pengaman yang bagai papan selancar itu, sejumlah pekerja di pabrik Piaggio pun bahkan mengatakannya sebagai motor Paperino. Harap diingat, Paperino adalah sindiran sinis untuk tokoh Donald Duck (bebek). Maka, d’Ascanio pun putar akal untuk memperbaiki model tersebut.

D’ascanio hanya membutuhkan beberapa hari untuk mengonsep ulang bentuk desain kendaraannya dan prototipnya diberi nama MP6. Saat Enrico Piaggio melihat protototip MP6 itu, ia secara tak sengaja berseru “Sambra Una Vespa” (terlihat seperti Tawon). Akhirnya dari seruan tak sengaja itu, diputuskan kendaraan ini dinamakan ‘Vespa’ (tawon dalam bahasa Indonesia). Pada April 1946, prototip MP6 ini mulai diproduksi masal di pabrik Piaggio di Pontedera, Italia.

Pada Akhir 1949, telah di produksi 35000 unit dan dalam 10 tahun telah memproduksi 1 Juta unit dan pada pertengahan tahun 1950. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Vespa menjadi simbol dari revolusi gagasan pada waktu itu.

Perkembangan selanjutnya, produk ini ternyata laris diserap pasar Prancis, Inggris, Belgia, Spanyol, Brazil, dan India — selain di pasar domestik produk ini laku bagai kacang goreng. Selain itu, India pun memproduksi jenis dan bentuk yang sama dengan mengambil mesin Bajaj. Jenisnya adalah Bajaj Deluxe dan Bajaj Super. Sejumlah pihak lantas mengajukan lamaran untuk joint membuat Vespa. Maka pada 1950 munculah Vespa 125 cc buatan Jerman.
Pada saat itu banyak negara lain yang mencoba membuat produk serupa, tetapi ternyata mereka tak sedikit pun mampu menyaingi Piaggio. Di antara pesaing itu adalah Lambretta, Heinkel, Zundapp, dan NSU. Bagi masyarakat Indonesia, produk Lambretta dan Zundapp, sempat populer di era 1960-an.

Selidik punya selidik, fanatisme terhadap Vespa ternyata muncul akibat ciri dasar bentuk motor ini yang selalu dipertahankan pada setiap produk berikutnya. Bahkan saat mereka terbilang melakukan ”revolusi” bentuk pada produk baru, Vespa 150 GS, kekhasan pantat bahenol masih terasa melekat.

Produk 150 GS — kala itu dikenal sebagai Vespamore dan hampir selalu tampil di tiap film tahun 1960-an — memang kemudi dan lampu sorotnya mulai dibuat menyatu. Tetapi, secara keseluruhan apalagi bentuk pantatnya, benar-benar masih membulat. Dan cerita terus berlanjut saat ini dengan model generasi baru Vespa, mempersembahkan Vespa ET2, Vespa ET4, Vespa Granturismo dan Vespa PX150. Vespa bukan hanya sekedar Scooter tapi salah satu Icon besar orang Italia.

Sejarah Vespa di Indonesia

“Demam Vespa” di tanah air sangat di pengaruhi oleh “Vespa Congo”. Vespa diberikan sebagai Penghargaan oleh Pemerintah Indonesia terhadap Pasukan Penjaga Perdamaian Indonesia yang bertugas di Congo saat itu.

Menurut beberapa narasumber, setelah banyak Vespa Congo berkeliaran di jalanan, mulailah Vespa menjadi salah satu pilihan kendaraan roda dua di Indonesia. Importir lokal turut mendukung perkembangan Vespa di tanah air.

Sampai saat ini sudah puluhan varian Vespa yang mampir di Indonesia. Dari yang paling tua hingga yang paling baru ada di Indonesia. Sampai saat ini Indonesia mungkin masih bisa disebut sebagai surganya Vespa. Maraknya ekspor Vespa, sedikit banyak mengurangi populasi Vespa di Indonesia.